Suara Mahasiswa
Filosofi Mahasiswa

Tanya Mahasiswa

Pandangan masyarakat secara luas menganggap atau menetapkan Mahasiswa sebagai kumpulan orang yang berilmu dan berpengetahuan.

Mengapa itu bisa terjadi?

Karena kenyataannya begitu.

Siapapun ia, selam ia adalah mahasiswa, pastilah ia pandai, cerdas, pintar, berilmu, dan mempunyai kemampuan.

Mengapa memiliki ilmu pengetahuan?

Karena mereka belajar. Ilmu-ilmu yang terhampar luas, mereka serap sedikit demi sedikit. Mereka gunakan untuk kemaslahatan baik diri sendiri maupun masyarakat luas. Kemudian mereka kembangkan lagi, sehingga ilmu yang ada bertambah luas.

Bukankah tanpa menjadi mahasiswa, manusia dapat hidup?

Pemikiran yang benar, tapi keliru. Mahasiswa itu adalah manusia terpilih. Berbeda dengan makhluk hidup lain, seperti hewan, tumbuhan, benda mati, bahkan manusia lainnya yang bukan mahasiswa. Sebagai bagian dari manusia, pastilah ia memiliki akal. Nah, apa guna akal? Berpikir? Tepat. Akal adalah sesuatu yang selalu aktif jika digunakan. Itulah manusia. Tanpa akal yang digunakan ia hanya seonggok daging hidup. Maka jangan heran disekitar kita banyak yang seperti itu.

Bukankah setiap manusia dari lahir sampai mati selalu berpikir?

Benar. Namun, berpikir seperti apa? Berpikir baik atau sekadarnya? Nah, itulah yang membedakan Mahasiswa dan bukan Mahasiswa. Tetapi, berita buruknya, ada mahasiswa yang tidak pernah berpikir - dengan baik.

Manusia

Apakah manusia itu?

Sejarah manusia dimulai dari Adam. Siapakah ia? Menurut kitab suci-kitab suci, ia adalah manusia pertama. Kita yakini (iman) kepada aksioma tersebut, karena itu adalah pernyataan dari Tuhan melalui firman-Nya.

Lalu, apakah manusia itu? Kita logikakan saja, siapa tahu ada tautannya langsung  dengan konklusi yang sudah benar-benar ada di kitab suci. Manusia adalah makhluk yang tinggal di bumi.

Muncul pertanyaan selanjutnya, dari mana asalnya bumi?

Pertanyaan-pertanyaan di atas hampir sama dengan apa yang tertulis di dalam Novel Dunia Sophie: Siapakah kamu?; Dari mana datangnya dunia?

Dulu, ketika saya masih memercayai apa kata orang-orang yang disebut ahli agama, saya berpegang teguh bahwa tidak baik atau tidak boleh membicarakan apa yang tidak kita ketahui, apalagi mempertanyakan Tuhan. Sekarang saya menutupnya dengan proposisi: Absurd (pada pandangan hidup semacam itu)

Kendati kita membatasi pemikiran pada ‘manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan’, tapi dorongan naluri batiniah - beberapa - manusia akan mempertanyakan mengapa kita diciptakan? Saya paham pada Ayat Al-Qur’an yang memaparkan kalau Allah adalah Yang Maha Tahu mengapa kita Ia ciptakan. Namun, pasti masih ada misteri yang belum terpecahkan tentang alasan Tuhan (Allah).

Barangkali jawabannya ada di diri kita sendiri, selain untuk menyembah-Nya, berbuat kebaikan, sebagai Khalifah, dan lain sebagainya. Demikianlah kita ada baiknya kembali mempertanyakan secara filsafat siapakah kita yang berwujud manusia ini?

Pangkalan Bun, 3 Juli 2012

Kematian

Sebuah prosesi dari kehidupan.

Kematian adalah bagian akhir dari prosesi kehidupan, seperti yang kita tahu, lahir -> hidup -> mati.

Proses itu bukan pendek (simpel) tapi panjang (kompleks). Pernyataan kitab suci-kitab suci pun menjelaskan demikian, sekalipun ada manusia yang berproses dikehidupannya dengan rentang waktu pendek, dan ada juga yang mengalami proses yang panjang. Tapi hukum kehidupan yang akan mengakhiri kehidupan itu sendiri, yaitu kematian.

Dalam kematian pun ada proses. Ia lebih penting dari proses kehidupan. Jika proses kehidupan hanya lahir -> hidup -> mati, maka kematian (mungkin) lebih rumit, extraordinary, diluar apa yang diketahui manusia. Karena sesungguhnya kematian adalah suatu peristiwa yang tiba-tiba, di luar akal, tapi saya yakin, entah seribu atau dua ribu tahun yang akan datang, manusia sudah mampu menjelaskan kematian secara ilmiah apa itu kematian atau bagaimana pikiran Tuhan, seperti apa yang dikatakan oleh Stephen Hawking:

“Seandainya kita betul-betul menemukan sebuah teori sempurna, pada waktunya teori itu harus dapat dimengerti dalam prinsip yang luas oleh setiap orang. Maka kita semua, para filosof, ilmuwan, dan tepatnya orang biasa, akan dapat ikut serta dalam diskusi tentang mengapa kita dan alam semesta ada. Seandainya kita mendapatkan jawaban tentang hal itu, itulah keberhasilan terakhir rasio manusia. Karena kita kemudian betul-betul mengetahui Pikiran Tuhan…”

Di balik itu semua, kematian bagi saya adalah ihwal yang komprehensif. Ia mencakup alam semesta raya. Dan aturan universal mengatakan: Tidak Ada Yang Abadi. Itulah mengapa tulisan ini saya buat dengan unsur utama kematian.

Setelah kematian (lembaran lama), muncullah kehidupan baru (lembaran baru). Keyakinan saya bertambah kuat manakala mengingat pepatah: Mati Satu Tumbuh Seribu. Kematian hidup yang lama di hari kemarin, akan mengantarkan kita menemui kehidupan baru, yang lebih hidup – jikalau dari awal kita mempersiapkannya.

Demi kehidupan baru tersebut, saya persembahkan sebuah komitmen.. Menulis.

Pangkalan Bun, 2 Juli 2012

Memanusiakan manusia, itulah Pendidikan.
Self