Suara Mahasiswa
Tidak ada di dalam hati dua cinta, sebagaimana tidak ada dalam wujud ini dua Tuhan
Al - Qur’an
Kematian

Sebuah prosesi dari kehidupan.

Kematian adalah bagian akhir dari prosesi kehidupan, seperti yang kita tahu, lahir -> hidup -> mati.

Proses itu bukan pendek (simpel) tapi panjang (kompleks). Pernyataan kitab suci-kitab suci pun menjelaskan demikian, sekalipun ada manusia yang berproses dikehidupannya dengan rentang waktu pendek, dan ada juga yang mengalami proses yang panjang. Tapi hukum kehidupan yang akan mengakhiri kehidupan itu sendiri, yaitu kematian.

Dalam kematian pun ada proses. Ia lebih penting dari proses kehidupan. Jika proses kehidupan hanya lahir -> hidup -> mati, maka kematian (mungkin) lebih rumit, extraordinary, diluar apa yang diketahui manusia. Karena sesungguhnya kematian adalah suatu peristiwa yang tiba-tiba, di luar akal, tapi saya yakin, entah seribu atau dua ribu tahun yang akan datang, manusia sudah mampu menjelaskan kematian secara ilmiah apa itu kematian atau bagaimana pikiran Tuhan, seperti apa yang dikatakan oleh Stephen Hawking:

“Seandainya kita betul-betul menemukan sebuah teori sempurna, pada waktunya teori itu harus dapat dimengerti dalam prinsip yang luas oleh setiap orang. Maka kita semua, para filosof, ilmuwan, dan tepatnya orang biasa, akan dapat ikut serta dalam diskusi tentang mengapa kita dan alam semesta ada. Seandainya kita mendapatkan jawaban tentang hal itu, itulah keberhasilan terakhir rasio manusia. Karena kita kemudian betul-betul mengetahui Pikiran Tuhan…”

Di balik itu semua, kematian bagi saya adalah ihwal yang komprehensif. Ia mencakup alam semesta raya. Dan aturan universal mengatakan: Tidak Ada Yang Abadi. Itulah mengapa tulisan ini saya buat dengan unsur utama kematian.

Setelah kematian (lembaran lama), muncullah kehidupan baru (lembaran baru). Keyakinan saya bertambah kuat manakala mengingat pepatah: Mati Satu Tumbuh Seribu. Kematian hidup yang lama di hari kemarin, akan mengantarkan kita menemui kehidupan baru, yang lebih hidup – jikalau dari awal kita mempersiapkannya.

Demi kehidupan baru tersebut, saya persembahkan sebuah komitmen.. Menulis.

Pangkalan Bun, 2 Juli 2012