Suara Mahasiswa

Month

July 2012

15 posts

Filosofi Mahasiswa

Tanya Mahasiswa

Pandangan masyarakat secara luas menganggap atau menetapkan Mahasiswa sebagai kumpulan orang yang berilmu dan berpengetahuan.

Mengapa itu bisa terjadi?

Karena kenyataannya begitu.

Siapapun ia, selam ia adalah mahasiswa, pastilah ia pandai, cerdas, pintar, berilmu, dan mempunyai kemampuan.

Mengapa memiliki ilmu pengetahuan?

Karena mereka belajar. Ilmu-ilmu yang terhampar luas, mereka serap sedikit demi sedikit. Mereka gunakan untuk kemaslahatan baik diri sendiri maupun masyarakat luas. Kemudian mereka kembangkan lagi, sehingga ilmu yang ada bertambah luas.

Bukankah tanpa menjadi mahasiswa, manusia dapat hidup?

Pemikiran yang benar, tapi keliru. Mahasiswa itu adalah manusia terpilih. Berbeda dengan makhluk hidup lain, seperti hewan, tumbuhan, benda mati, bahkan manusia lainnya yang bukan mahasiswa. Sebagai bagian dari manusia, pastilah ia memiliki akal. Nah, apa guna akal? Berpikir? Tepat. Akal adalah sesuatu yang selalu aktif jika digunakan. Itulah manusia. Tanpa akal yang digunakan ia hanya seonggok daging hidup. Maka jangan heran disekitar kita banyak yang seperti itu.

Bukankah setiap manusia dari lahir sampai mati selalu berpikir?

Benar. Namun, berpikir seperti apa? Berpikir baik atau sekadarnya? Nah, itulah yang membedakan Mahasiswa dan bukan Mahasiswa. Tetapi, berita buruknya, ada mahasiswa yang tidak pernah berpikir - dengan baik.

Jul 9, 20123 notes
#Filosofi #Filsafat #Mahasiswa #Hakikat #Ilmu #Pengetahuan #Akal #Manusia #Pemikiran #Pemuda #Masyarakat
Jul 7, 201223 notes
PEMUDA (part I)

Ringkasan pemikiran Otto Syamsuddin Ishak dalam tulisan ilmiah populernya “Keindonesiaan: Persatuan yang Terhenti, Kesatuan yang Asimetris (Prisma Vol. 30, No. 2)”

Bahwa sejarah politik Nusantara adalah waktu yang sangat panjang. Ketika penduduk pribumi Nusantara (Nusa Antara) mulai mediami kepulauan Nusantara, sejak itulah dimulai adanya proses politik geografis.

Suatu contoh dalam kesultanan Aceh pada abad ke-16, daerah kekuasaan sungguh meluas dan menjadikannya sebuah negara tradisional yang membawahi berbagai bangsa dan kerajaan (negara) kecil lainnya.

Pluralsuku, Polietnis, dan Multibangsa mengalami proses devolusi dengan bertransformasi menjadi bangsa yang baru di bawah Kesultanan Aceh. Ini yang disebut dengan Evolusi menjadi bangsa yang baru.

Jadi, antara proses devolusi dan evolusi terjadi secara bersamaan.

Kemudian, ketika zaman kolonial, terbentuknya Kerajaan Hindia Belanda yang mendevolusi kerajaan Aceh serta kerajaan besar lainnya di Nusantara, namun terjadinya devolusi itu tidak berbarengan di tiap daerah, melainkan secara bertahap dan panjang.

Bangsa di Negara Hindia Belanda bertransformasi (evolusi) dari peleburan (devolusi) Bangsa-Bangsa pribumi, Bangsa-Bangsa Timur Asing (Cina, India, Arab), dan Bangsa-Bangsa Eropa, menjadi satu kesatuan.

Setelah kesadaran nation mulai menjangkiti bangsa-bangsa pribumi, terjadilah evolusi yang menitikberatkan pada nasionalisme, tapi secara regional. Bangsa Sumatera versi Jong Sumatranen Bong (1917), Bangsa Jawa versi Jong Java Bond (1918). Ada pula setelahnya Bangsa Indonesia - yang sudah mempunyai pandangan luas tentang Indonesia - versi Jong Islamieten Bond (1925).

Bangsa-bangsa atau Nasionalisme Regional ini dikonstruksi oleh pemuda yang lahir lantaran ketidakpuasan pada gerakan pemuda terdahulu yang kurang mampu memperjuangkan nation-nya. Munculnya Jong-Jong atau gerakan-gerakan pemuda ini karena kesadaran akan kejayaan masa lalu - sebelum era kolonial, seperti Aceh, Mataram, dll - kecuali Jong Islamieten yang mendasarkan pergerakannya pada kesamaan nasib penduduk Nusantara yang berada dalam cengkraman kekuasaan Hindia Belanda.

Jul 6, 20122 notes
#Pemuda #Otto Syamsuddin Ishak #Prisma #Evolusi #Devolusi #Pribumi #Nusantara #Indonesia #Hindia Belanda #Aceh #Nation #Bangsa
“Temukan jodoh-jodoh idealismemu, orang-orang yang akan selalu bersamamu dengan idealisme itu, dan akan mengingatkanmu ketika kamu mulai pragmatis dengan idealisme itu.” —Aichiro Suryo Prabowo (via ikumaikuma)
Jul 4, 201212 notes
#idealisme
Keluarga

Sepanjang masa

Sebagaimana kita ketahui, keluarga merupakan konfigurasi dasar dari kehidupan. Ia membentuk individu mulai dari awal. Semenjak keluarga dibentuk dan juga penyambung keluarga sebelumnya, individu akan mentasbihkan dirinya siap untuk berinteraksi dengan manusia lainnya.

Pertanyaannya, mengapa harus dibentuk keluarga?

Kalau dicermati, manusia kurang lebih mampu bertahan hidup tanpa keluarga. Bukankah dengan adanya keluarga kemungkinan adanya disintegrasi keluarga akan besar? Contohnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Perceraian, Konflik, dan lain-lain.

Ada sebagian individu yang mengesampingkan menikah (membentuk keluarga), karena mempunyai pandangan hidup lebih baik hidup sendiri. Lalu, dari mana ia melampiaskan kebutuhan batinnya? Kalau untuk kebutuhan lahirnya pastinya mudah untuk meraihnya.

Koran Nikkei Shimbun pernah melakukan riset (1995), kepada wanita usia 30 tahun ke atas yang bekerja di kantoran Tokyo. Hasilnya, 44,2 persen menjawab: Tidak Masalah Bila Tidak Menikah - jika tidak mendapatkan pasangan hidup yang cocok (kompas.com)

Pengalaman saya juga membuktikan, di keluarga juga rentan konflik. Beberapa individu yang berkumpul dengan ego masing-masing akan dengan mudah terjadi gesekan, entah itu sikap atau sifat yang berbeda antar masing-masing. Permasalahn itu semakin meruncing jika beberapa pihak kurang memiliki empati dan simpati pada anggota keluarga.

Adakah alasan tepat itu berkeluarga? Karena ini adalah pertanyaan Sepanjang Masa.

Jul 4, 20121 note
#filsafat #keluarga #nikah #cerai #Tokyo #Pandangan hidup
“Hasil belajar kita :
10 % dari apa yang kita baca
20 % dari apa yang kita dengar
30 % dari apa yang kita lihat
50 % dari apa yang kita lihat dan dengar
70 % dari apa yang kita katakan
90 % dari apa yang kita katakan dan lakukan”
—Dr. Vernon A. Magnesen, 1983 (via harismu)
Jul 4, 20126 notes
#Belajar
Manusia

Apakah manusia itu?

Sejarah manusia dimulai dari Adam. Siapakah ia? Menurut kitab suci-kitab suci, ia adalah manusia pertama. Kita yakini (iman) kepada aksioma tersebut, karena itu adalah pernyataan dari Tuhan melalui firman-Nya.

Lalu, apakah manusia itu? Kita logikakan saja, siapa tahu ada tautannya langsung  dengan konklusi yang sudah benar-benar ada di kitab suci. Manusia adalah makhluk yang tinggal di bumi.

Muncul pertanyaan selanjutnya, dari mana asalnya bumi?

Pertanyaan-pertanyaan di atas hampir sama dengan apa yang tertulis di dalam Novel Dunia Sophie: Siapakah kamu?; Dari mana datangnya dunia?

Dulu, ketika saya masih memercayai apa kata orang-orang yang disebut ahli agama, saya berpegang teguh bahwa tidak baik atau tidak boleh membicarakan apa yang tidak kita ketahui, apalagi mempertanyakan Tuhan. Sekarang saya menutupnya dengan proposisi: Absurd (pada pandangan hidup semacam itu)

Kendati kita membatasi pemikiran pada ‘manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan’, tapi dorongan naluri batiniah - beberapa - manusia akan mempertanyakan mengapa kita diciptakan? Saya paham pada Ayat Al-Qur’an yang memaparkan kalau Allah adalah Yang Maha Tahu mengapa kita Ia ciptakan. Namun, pasti masih ada misteri yang belum terpecahkan tentang alasan Tuhan (Allah).

Barangkali jawabannya ada di diri kita sendiri, selain untuk menyembah-Nya, berbuat kebaikan, sebagai Khalifah, dan lain sebagainya. Demikianlah kita ada baiknya kembali mempertanyakan secara filsafat siapakah kita yang berwujud manusia ini?

Pangkalan Bun, 3 Juli 2012

Jul 3, 20121 note
#Manusia #Tuhan #Filsafat #Hidup #Dunia Sophie #Pandangan Hidup
Jul 3, 20124 notes
#RSBI #Pendidikan #Kemdikbud #UUD 1945
Kematian

Sebuah prosesi dari kehidupan.

Kematian adalah bagian akhir dari prosesi kehidupan, seperti yang kita tahu, lahir -> hidup -> mati.

Proses itu bukan pendek (simpel) tapi panjang (kompleks). Pernyataan kitab suci-kitab suci pun menjelaskan demikian, sekalipun ada manusia yang berproses dikehidupannya dengan rentang waktu pendek, dan ada juga yang mengalami proses yang panjang. Tapi hukum kehidupan yang akan mengakhiri kehidupan itu sendiri, yaitu kematian.

Dalam kematian pun ada proses. Ia lebih penting dari proses kehidupan. Jika proses kehidupan hanya lahir -> hidup -> mati, maka kematian (mungkin) lebih rumit, extraordinary, diluar apa yang diketahui manusia. Karena sesungguhnya kematian adalah suatu peristiwa yang tiba-tiba, di luar akal, tapi saya yakin, entah seribu atau dua ribu tahun yang akan datang, manusia sudah mampu menjelaskan kematian secara ilmiah apa itu kematian atau bagaimana pikiran Tuhan, seperti apa yang dikatakan oleh Stephen Hawking:

“Seandainya kita betul-betul menemukan sebuah teori sempurna, pada waktunya teori itu harus dapat dimengerti dalam prinsip yang luas oleh setiap orang. Maka kita semua, para filosof, ilmuwan, dan tepatnya orang biasa, akan dapat ikut serta dalam diskusi tentang mengapa kita dan alam semesta ada. Seandainya kita mendapatkan jawaban tentang hal itu, itulah keberhasilan terakhir rasio manusia. Karena kita kemudian betul-betul mengetahui Pikiran Tuhan…”

Di balik itu semua, kematian bagi saya adalah ihwal yang komprehensif. Ia mencakup alam semesta raya. Dan aturan universal mengatakan: Tidak Ada Yang Abadi. Itulah mengapa tulisan ini saya buat dengan unsur utama kematian.

Setelah kematian (lembaran lama), muncullah kehidupan baru (lembaran baru). Keyakinan saya bertambah kuat manakala mengingat pepatah: Mati Satu Tumbuh Seribu. Kematian hidup yang lama di hari kemarin, akan mengantarkan kita menemui kehidupan baru, yang lebih hidup – jikalau dari awal kita mempersiapkannya.

Demi kehidupan baru tersebut, saya persembahkan sebuah komitmen.. Menulis.

Pangkalan Bun, 2 Juli 2012

Jul 2, 2012
#Kematian #Manusia #Kehidupan #Stephen Hawking #Pepatah #Teori #Pangkalan Bun
Jul 2, 20125 notes
#Banjarmasin #Floating Market #Pasar Terapung #Lok Baintan
“Sejarah bukan seni bernostalgia, tapi sejarah adalah ibrah, pelajaran, yang bisa kita tarik ke masa sekarang, untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.” —Maa Haaza, Negeri 5 Menara (via fathinlangga)
Jul 2, 20125 notes
“Hanya dengan menulis maka aku ada. Ketika kau mengambil semua atau separuh bagiannya, engkau menjadikanku tiada.
Hanya kata-kata yang aku punya. Ketika kau merampas aksara demi aksara, engkau mencuri apa yang kusebut harta.
Berbaliklah, temukan mata penamu sendiri.”
—untuk kebebasan menulis yang terantuk bayang-bayang penyaduran (via orkestraksara)
Jul 2, 20129 notes
“Menutupi fakta adalah tindakan politik, tapi menutupi kebenaran adalah perbuatan paling bodoh yang dilakukan manusia dimuka bumi.” —(via noteasytodream)
Jul 1, 20122 notes
“Ketika dulu semasa saya kuliah, ada beberapa kelompok mahasiswa yang bisa dibedakan berdasarkan pilihan kegiatan.
1.Mahasiswa yang pertama adalah mahasiswa hedonis- konsumtif, jaman itu mereka adalah penikmat orde baru, mereka pergi kuliah naik mobil dijaman itu dimana kebanyakan mahasiswa hanya baru bisa naik motor , sepeda atau jalan kaki untuk menuju kampus.
2. mahasiswa profesional – individualis, kerjaannya kuliah saja tidak perduli yang lain, menyiapkan diri untuk masa depan, professional tapi individualis.
3. mahasiswa kita istilahkannya asketis religius, asketis religius ini dipikirannya hanya agama saja. 4. mahasiswa yang aktivis, nilai minim, aktif sana-sini.
5. mahasiswa yang istilah kita adalah protarian, merasa dirinya sebagai ekspresi kemiskinan, ekspresi penderitaan rakyat kecil, kita bisa lihat dari gaya baju, rambut dll.
6. mahasiswa yang kecendrungannya adalah melakukan kajian, lalu seakan-akan setelah melakukan kajian secara mendalam maka problem masyarakat itu selesai.”
—Anies Baswedan (via nengmega)
Jul 1, 20126 notes
“Sejauh hukum-hukum matematika merujuk kepada kenyataan, mereka tidaklah pasti; dan sejauh mereka pasti, mereka tidak merujuk kepada kenyataan” —Albert Einstein
Jul 1, 2012
Next page →
2012 2013
  • January 3
  • February 4
  • March
  • April
  • May 2
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
2012 2013
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June 5
  • July 15
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December