Suara Mahasiswa

Month

May 2013

2 posts

“

Kalaupun angka aku pun angka

tak genap

tapi satu mana lengkap tanpa yang

pecah

maka aku pun rela jadi sepersekian

dari keutuhan-Mu

sebab tak lengkap engkau tanpa

aku

sebab tak sempurna engkau tanpa

manusia.

”
—Lagu Persetubuhan karya Wiji Thukul
May 16, 20131 note
#Wiji Thukul #Puisi #Sajak
Salah Jurusan

Oleh: Agung Setiawan, Dewan Penasihat LPM Jurnal Kampus FE Unlam

                Fenomena salah jurusan boleh jadi banyak dirasakan mahasiswa. Salah jurusan merupakan masalah penting yang seringkali dianggap sepele. Mahasiswa mengetahui bahwa fenomena ini terjadi disekitar mereka, bahkan diri mereka pun kemungkinan besar juga mengalami.

                Saya mempunyai sedikit penjelasan mengenai fenomena salah jurusan ini. Yaitu mahasiswa yang merasakan dirinya tidak berminat sedikit terhadap apa yang dipelajarinya sehari-hari di kelas. Ia juga mengalami masalah pada proses perkuliahan dan nilai. Di sisi lain ada minat dan bakat  terpendam dari dirinya namun terus-menerus terpendam karena apa yang ia sukai berbeda dari yang ia pelajari.

                Faktor-faktor mahasiswa terjerumus pada jurusan yang salah ada banyak. Salah satunya karena orang tua. Faktor eksternal ini sangat dominan mempengaruhi calon mahasiswa mengambil jurusan. Padahal di hati nuraninya sudah memberikan jalan apa yang harus ia ambil. Lagi-lagi orang tua menekankan keinginannya kepada anaknya. Tidak ada salahnya memang, namun anggapannya bahwa orang tua lebih tahu atau  dianggap  berpengalaman maka sang anak akan ditentukan oleh orang tua.

                Lingkungan pertemanan menjadi faktor kedua. Saat sebelum kelulusan biasanya pembicaraan antar teman pada jurusan apa yang akan diambil nantinya di bangku perkuliahan. Nah, di sinilah letak dari kegalauan dan kelabilan siswa. Mereka cenderung mengikuti apa kata orang, terlebih teman-temannya. Ketika teman dekatnya memutuskan untuk mengambil jurusan tertentu, ia mungkin saja otomatis mengikuti.

                Rasanya sistem pendidikan pun turut ikut camput menjerumuskan mahasiswa dalam lubang  yang salah. Ya, analisis saya dengan argumen: Ketika dulu di sekolah, siswa dipaksa untuk belajar sesuai dengan kurikulum saat itu. Tak pelak siswa mau tidak mau mengejar apa yang ditargetkan oleh mata pelajarannya. Dan pada akhirnya minat serta bakat diri masing-masing siswa terabaikan, kemudian berdampak pada orientasi pemilihan jurusan untuk kuliah.

                Tuntutan bekerja, memasung pemikiran calon mahasiswa dengan sedikit pilihan. Maka muncullah pilihan jurusan yang dipersepsikan publik mudah untuk bekerja setelah lulus. Jarang ada mahasiswa berani mengambil jurusan linier dengan hobinya. Padahal di balik itu, hobi menentukan kesuksesan seseorang, seperti orang-orang sukses di luar sana.

                Sebenarnya mudah mengidentifikasi mahasiswa yang salah jurusan. Beberapa di antaranya saat kuliah mereka seperti tidak berminat untuk fokus mendengarkan kuliah dosen, transkrip nilai yang rendah, dan sebagainya. Justifikasi kepada mahasiswa malas ikut kuliah seharusnya tidak diarahkan kepada mereka yang masuk golongan salah jurusan, hal ini karena faktor X seperti telah dijelaskan di atas. Seyogianya tidak ada mahasiswa yang gagal kuliah.[]

May 8, 2013
#Salah Jurusan #Mahasiswa #Kuliah #Jurusan #Universitas #Fenomena

February 2013

4 posts

Artis Terjerat Narkoba

Berikut artis-artis yang terjerat atas kasus pemakaian narkoba (2000-2013):

Doyok, Gogon, Garry Iskak, Fariz RM, Roy Marten, Jennifer Dunn, Revaldo, Sammy “Kerispatih”, Yoyo “Padi”, Andika “Kangen Band”, Ibra Azhari, Fachriah Muntas atau Ade Ivay, Imam S Arifin, dan Sheila Marcia.

Terakhir Raffi Ahmad yang menjadi tersangka Badan Narkotika Nasional atas kepemilikan Metylone dan dua linting Ganja.

Feb 3, 2013
Soegija (1896-1953)

Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa, dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar.
Satu keluarga besar di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian, dan permusuhan.

Feb 2, 2013
Profesi (1)

Orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang sukses. Itu salah satu alasan orang tua menyekolahkan anaknya.

Sukses dalam artian sejahtera dalam ekonomi. Artinya, memiliki pekerjaan, gaji, dan jabatan bergengsi, baik di sektor privat mau pun birokrasi.

Tentu sejahtera ekonomi berhubungan langsung dengan pendidikan jalur ilmu ekonomi. Itulah alasan kenapa para orang tua serius mendorong anaknya melanjutkan studi di fakultas ekonomi atau sekolah tinggi ilmu ekonomi.

Menurut saya, fenomena itu tidak terlepas dari kondisi perekonomian Indonesia yang baru tumbuh subur. Mengapa? Karena hal itu tuntutan demi kesejahteraan keluarga. Selain itu, semakin banyak muncul kelas-kelas menengah ekonomi masyarakat. Sehingga gengsi sosial mendominasi. Dan pada akhirnya meningkatkan konsumsi masyarakat. Ujungnya, uang semakin banyak diperlukan.

(Bersambung)

Feb 1, 2013
Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional

Jumlah RSBI (2011):
SD: 239; SMP: 356; SMA: 359; SMK: 351. Total: 1.305.

Jenjang menuju SBI:
1. SSN (Sekolah Standar Nasional)
- Memiliki rata-rata UN 6,5
- Tidak “double shift” (kelas pagi-sore)
- Berakreditasi B dari BAN sekolah/madrasah.

2. RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional)
- Sudah SSN
- Berakreditasi A
- Pembelajaran IPA, Matematika, dan kejuruan dilakukan dalam dua bahasa (bilingual)
- Nilai rata-rata UN 7,0
- Guru berpendidikan S-2 (SD minimal 10%, SMP minimal 20%, SMA/SMK minimal 30%)

3. SBI
- SNP (Standar Nasional Pendidikan) dan diperkaya standar kualitas pendidikan negara maju
- Berakreditasi A
- Pembelajaran IPA, Matematika, dan kejuruan dilakukan dalam dua bahasa (bilingual)
- Nilai rata-rata UN 8,0


Alasan Mahkamah Konstitusi Membatalkan RSBI:
1. MK tidak menafikan pentingnya bahasa Inggris, tetapi istilah internasional sangat berpotensi mengikis kebudayaan dan bahasa Indonesia.
2. Lulusan pendidikan yang dihasilkan RSBI dan SBI adalah siswa berprestasi, tetapi tidak harus berlabel berstandar internasional.
3. RSBI membuka peluang pembedaan perlakuan antara sekolah RSBI/SBI dan sekolah non-SBI.

Sumber: Kompas

Feb 1, 2013

January 2013

3 posts

Membangun Mahasiswa Banua

Membangun Mahasiswa Banua

                Potret mahasiswa banua dewasa ini menunjukkan dunia pendidikan di bumi Antasari. Kaum berpendidikan Banjarmasin mencapai level Quo Vadis. Status Quo Vadis merujuk pada bahasa latin yang bermakna: mau dibawa kemana?. Dimulai dari frasa itu, saya mencermati kondisi riil dan faktual dari aktivitas kemahasiswaan di banua.

                Pertama, lesunya kreativitas dalam konteks kegiatan yang beragam dan memiliki daya positif yang membangun. Kebanyakan kawan-kawan mahasiswa berkutat pada tradisi yang ada, dengan tanpa mentranformasikan bentuk dari kegiatan-kegiatannya. Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK), misalnya, selalu mengulang dari tahun-tahun sebelumnya.

                Kedua, daya saing secara nasional yang diperkirakan kurang. Momen untuk membangkitkan pendidikan tinggi berkualitas terus-menerus dilewati. Kawan-kawan mahasiswa banua seakan terbuai dalam lingkungannya sendiri. Output dari keilmuan yang seharusnya diterapkan oleh intelektual-intelektual tersebut belum terdeteksi secara luas. Karya-karya ilmiah sebagai salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan sampai saat ini, tidak (belum) mengguncang dunia akademis banua – terutama oleh mahasiswanya sendiri.

Perangkat sivitas akademika pun turut terasa membiarkan ‘kebiasaan’ itu dipelihara. Hal ini diperparah dengan oknum pendidik yang korup. Bukan hanya term korupsi dalam istilah yang berhubungan dengan uang, namun lebih spesifik pada korupsi passion for teaching. Amanah menyampaikan ilmu dikalahkan oleh keegoistisaan. Artinya kesadaran membangun generasi bangsa yang berdaya saing tinggi dirasa masih lemah.

Ketiga, fenomena pemisah (gap) antara mahasiswa aktivis dan mahasiswa biasa (yang hanya berkuliah) cukup tinggi. Inilah problem utama dari mahasiswa banua. Kuantitas dan kualitas dari kedua unsur mahasiswa tersebut cukup signifikan. Pernyataan ini dilihat dari jumlah komunitas-komunitas kemahasiswaan terlalu sedikit, berbeda dibanding dengan perguruan tinggi di luar kalimantan. Semua itu berdampak pada tren seperti pada argumentasi yang pertama dan kedua di atas. Mahasiswa akan kekurangan kreativitas dan kepedulian sosialnya, karena masalah kelangkaan mahasiswa inovatif, kreatif, serta berkemampuan sosial. Maka, untuk apa menuntut ilmu tinggi jika ia tak mampu membangun lingkungan sosialnya sendiri?.

Faktor tiga argumen di atas utamanya dipicu oleh kebudayaan, lingkungan sosial, dan kurang maksimalnya pengadaan teknologi informasi. Kondisi faktual dan aktual ini jika tidak sesegera mungkin diantisipasi, akan berimplikasi pada generasi banua di masa depan. Ketertinggalan kaum terdidik tinggi akan semakin nyata dampaknya dikemudian hari. Refleksinya dapat kita lihat sehari-hari, semakin panasnya dan semakin sempitnya hidup di Banjarmasin. Saya berpikir andai saja mahasiswa teknik mampu menciptakan solusi atasi kemacetan dibeberapa titik di kota seribu sungai. Atau ditemukannya teknik memanipulasi pikiran oleh mahasiswa psikologi agar kebiasaan membuang sampah sembarang oleh sebagian masyarakat banjar dapat ditekan.

Bukan sekadar mimpi kalau mahasiswa banua mencapai prestasi demi membanggakan daerah kita. Suku banjar bukanlah suku bangsa pinggiran, cukup banyak asli banua yang berkiprah dan berandil besar langsung kepada Negara. Namun kenyataan masa kini yang membuat suku kita ini terkapar. Hampir jarang sekali kita mendengar suku banjar disebut-sebut dalam ranah nasional, paling tidak untuk beberapa tahun belakangan. Kita tidak cukup berbangga dengan hasil perekonomian yang tinggi jika mayoritas pribuminya bukan termasuk masyarakat yang unggul.

Rumusan solusi atas segenap permasalah di atas kiranya dapat ditentukan dengan cara, pertama, orientasi pendidikan tinggi lebih terhadap mahasiswa. Urgensi membangun mahasiswa banua yang unggul secepatnya melalui mekanisme pendidikan berkarakter secara intensif. Tidak cukup itu, dosen juga menyusupkan nilai-nilai pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang hukumnya wajib dikuasai oleh penerus bangsa dalam perkuliahannya. Caranya dengan memotivasi atau memberikan contoh bagaimana mengelola dan mengembangkan iptek dalam seluruh bidang.

Kedua, pembudayaan belajar dan kepekaan sosial lingkungan. Ini penting, mengingat aspek permasalahan banua diseputar bidang itu. Pepatah, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, masih relevan diterapkan sampai saat ini. Tujuannya agar wawasan pemuda semakin luas lagi, dan membuka jalan pada konektivitas kepada dunia. Yang paling penting, kawan-kawan mahasiswa bersukarela menumbuhkan jiwa sosial, terutama membantu perkembangan daerah kita sendiri. Sehingga kejayaan bangsa banjar masa lalu dapat dibangkitkan kembali di masa depan. Itulah pentingnya membangun mahasiswa banua. []

Jan 24, 2013
#Mahasiswa Banjarmasin Kalimantan Selatan Unlam Banua Kuliah
Writing

Beberapa orang mengatakan kalau menulis dapat menghilangkan stress/depresi. Kurang lebih hal itu benar. Bapak Dahlan Iskan pun dulu ketika mengalami operasi hati, ia tetap menulis, dan ajaib, ia saat ini sembuh berkat pertolongan bantuan hati oleh pemuda China.

Sudah lama rasanya Saya tidak menulis lagi. Semenjak masa sibuk di Organisasi Mahasiswa LPM Jurnal Kampus. Saat itu Saya berkutat dalam kepentingan-kepentingan banyak, antara diri sendiri, teman-teman, dan organisasi itu tentunya.

Tidak dapat dimungkiri, Saya merindukan menulis. Di mana menulis memberikan Saya penghargaan batin (walau penghargaan untuk diri sendiri), Saya mengangkat diri bahwa Saya berbakat untuk menulis.

Sudah tak terhitung, meski relatif banyak, tulisan-tulisan Saya dari beberapa tahun belakangan, Saya baca kembali. Dan saya terkejut, betapa tulisan-tulisan tersebut begitu luar biasa. Saya tak menyangka bisa menulis seperti itu. Ternyata benar apa kata Bapak Mario Teguh: “Liat masa lalu, betapa kau akan mendapati kau mampu berbuat seperti itu.”

Setelah Saya keluar dari Jurnal Kampus, ini kesempatan Saya kembali memproduksi tulisan-tulisan yang Insya Allah akan berguna nantinya. Bismillah….

Jan 20, 20131 note
#Menulis #Tulisan #Bakat #Writing #Dahlan Iskan #Mario Teguh #Produksi
“Tidak ada di dalam hati dua cinta, sebagaimana tidak ada dalam wujud ini dua Tuhan” —Al - Qur’an
Jan 20, 20138 notes
#quote #al-qur'an #kata mutiara #kata bijak #kehidupan #cinta

July 2012

15 posts

Filosofi Mahasiswa

Tanya Mahasiswa

Pandangan masyarakat secara luas menganggap atau menetapkan Mahasiswa sebagai kumpulan orang yang berilmu dan berpengetahuan.

Mengapa itu bisa terjadi?

Karena kenyataannya begitu.

Siapapun ia, selam ia adalah mahasiswa, pastilah ia pandai, cerdas, pintar, berilmu, dan mempunyai kemampuan.

Mengapa memiliki ilmu pengetahuan?

Karena mereka belajar. Ilmu-ilmu yang terhampar luas, mereka serap sedikit demi sedikit. Mereka gunakan untuk kemaslahatan baik diri sendiri maupun masyarakat luas. Kemudian mereka kembangkan lagi, sehingga ilmu yang ada bertambah luas.

Bukankah tanpa menjadi mahasiswa, manusia dapat hidup?

Pemikiran yang benar, tapi keliru. Mahasiswa itu adalah manusia terpilih. Berbeda dengan makhluk hidup lain, seperti hewan, tumbuhan, benda mati, bahkan manusia lainnya yang bukan mahasiswa. Sebagai bagian dari manusia, pastilah ia memiliki akal. Nah, apa guna akal? Berpikir? Tepat. Akal adalah sesuatu yang selalu aktif jika digunakan. Itulah manusia. Tanpa akal yang digunakan ia hanya seonggok daging hidup. Maka jangan heran disekitar kita banyak yang seperti itu.

Bukankah setiap manusia dari lahir sampai mati selalu berpikir?

Benar. Namun, berpikir seperti apa? Berpikir baik atau sekadarnya? Nah, itulah yang membedakan Mahasiswa dan bukan Mahasiswa. Tetapi, berita buruknya, ada mahasiswa yang tidak pernah berpikir - dengan baik.

Jul 9, 20123 notes
#Filosofi #Filsafat #Mahasiswa #Hakikat #Ilmu #Pengetahuan #Akal #Manusia #Pemikiran #Pemuda #Masyarakat
Jul 7, 201223 notes
PEMUDA (part I)

Ringkasan pemikiran Otto Syamsuddin Ishak dalam tulisan ilmiah populernya “Keindonesiaan: Persatuan yang Terhenti, Kesatuan yang Asimetris (Prisma Vol. 30, No. 2)”

Bahwa sejarah politik Nusantara adalah waktu yang sangat panjang. Ketika penduduk pribumi Nusantara (Nusa Antara) mulai mediami kepulauan Nusantara, sejak itulah dimulai adanya proses politik geografis.

Suatu contoh dalam kesultanan Aceh pada abad ke-16, daerah kekuasaan sungguh meluas dan menjadikannya sebuah negara tradisional yang membawahi berbagai bangsa dan kerajaan (negara) kecil lainnya.

Pluralsuku, Polietnis, dan Multibangsa mengalami proses devolusi dengan bertransformasi menjadi bangsa yang baru di bawah Kesultanan Aceh. Ini yang disebut dengan Evolusi menjadi bangsa yang baru.

Jadi, antara proses devolusi dan evolusi terjadi secara bersamaan.

Kemudian, ketika zaman kolonial, terbentuknya Kerajaan Hindia Belanda yang mendevolusi kerajaan Aceh serta kerajaan besar lainnya di Nusantara, namun terjadinya devolusi itu tidak berbarengan di tiap daerah, melainkan secara bertahap dan panjang.

Bangsa di Negara Hindia Belanda bertransformasi (evolusi) dari peleburan (devolusi) Bangsa-Bangsa pribumi, Bangsa-Bangsa Timur Asing (Cina, India, Arab), dan Bangsa-Bangsa Eropa, menjadi satu kesatuan.

Setelah kesadaran nation mulai menjangkiti bangsa-bangsa pribumi, terjadilah evolusi yang menitikberatkan pada nasionalisme, tapi secara regional. Bangsa Sumatera versi Jong Sumatranen Bong (1917), Bangsa Jawa versi Jong Java Bond (1918). Ada pula setelahnya Bangsa Indonesia - yang sudah mempunyai pandangan luas tentang Indonesia - versi Jong Islamieten Bond (1925).

Bangsa-bangsa atau Nasionalisme Regional ini dikonstruksi oleh pemuda yang lahir lantaran ketidakpuasan pada gerakan pemuda terdahulu yang kurang mampu memperjuangkan nation-nya. Munculnya Jong-Jong atau gerakan-gerakan pemuda ini karena kesadaran akan kejayaan masa lalu - sebelum era kolonial, seperti Aceh, Mataram, dll - kecuali Jong Islamieten yang mendasarkan pergerakannya pada kesamaan nasib penduduk Nusantara yang berada dalam cengkraman kekuasaan Hindia Belanda.

Jul 6, 20122 notes
#Pemuda #Otto Syamsuddin Ishak #Prisma #Evolusi #Devolusi #Pribumi #Nusantara #Indonesia #Hindia Belanda #Aceh #Nation #Bangsa
“Temukan jodoh-jodoh idealismemu, orang-orang yang akan selalu bersamamu dengan idealisme itu, dan akan mengingatkanmu ketika kamu mulai pragmatis dengan idealisme itu.” —Aichiro Suryo Prabowo (via ikumaikuma)
Jul 4, 201212 notes
#idealisme
Keluarga

Sepanjang masa

Sebagaimana kita ketahui, keluarga merupakan konfigurasi dasar dari kehidupan. Ia membentuk individu mulai dari awal. Semenjak keluarga dibentuk dan juga penyambung keluarga sebelumnya, individu akan mentasbihkan dirinya siap untuk berinteraksi dengan manusia lainnya.

Pertanyaannya, mengapa harus dibentuk keluarga?

Kalau dicermati, manusia kurang lebih mampu bertahan hidup tanpa keluarga. Bukankah dengan adanya keluarga kemungkinan adanya disintegrasi keluarga akan besar? Contohnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Perceraian, Konflik, dan lain-lain.

Ada sebagian individu yang mengesampingkan menikah (membentuk keluarga), karena mempunyai pandangan hidup lebih baik hidup sendiri. Lalu, dari mana ia melampiaskan kebutuhan batinnya? Kalau untuk kebutuhan lahirnya pastinya mudah untuk meraihnya.

Koran Nikkei Shimbun pernah melakukan riset (1995), kepada wanita usia 30 tahun ke atas yang bekerja di kantoran Tokyo. Hasilnya, 44,2 persen menjawab: Tidak Masalah Bila Tidak Menikah - jika tidak mendapatkan pasangan hidup yang cocok (kompas.com)

Pengalaman saya juga membuktikan, di keluarga juga rentan konflik. Beberapa individu yang berkumpul dengan ego masing-masing akan dengan mudah terjadi gesekan, entah itu sikap atau sifat yang berbeda antar masing-masing. Permasalahn itu semakin meruncing jika beberapa pihak kurang memiliki empati dan simpati pada anggota keluarga.

Adakah alasan tepat itu berkeluarga? Karena ini adalah pertanyaan Sepanjang Masa.

Jul 4, 20121 note
#filsafat #keluarga #nikah #cerai #Tokyo #Pandangan hidup
“Hasil belajar kita :
10 % dari apa yang kita baca
20 % dari apa yang kita dengar
30 % dari apa yang kita lihat
50 % dari apa yang kita lihat dan dengar
70 % dari apa yang kita katakan
90 % dari apa yang kita katakan dan lakukan”
—Dr. Vernon A. Magnesen, 1983 (via harismu)
Jul 4, 20126 notes
#Belajar
Manusia

Apakah manusia itu?

Sejarah manusia dimulai dari Adam. Siapakah ia? Menurut kitab suci-kitab suci, ia adalah manusia pertama. Kita yakini (iman) kepada aksioma tersebut, karena itu adalah pernyataan dari Tuhan melalui firman-Nya.

Lalu, apakah manusia itu? Kita logikakan saja, siapa tahu ada tautannya langsung  dengan konklusi yang sudah benar-benar ada di kitab suci. Manusia adalah makhluk yang tinggal di bumi.

Muncul pertanyaan selanjutnya, dari mana asalnya bumi?

Pertanyaan-pertanyaan di atas hampir sama dengan apa yang tertulis di dalam Novel Dunia Sophie: Siapakah kamu?; Dari mana datangnya dunia?

Dulu, ketika saya masih memercayai apa kata orang-orang yang disebut ahli agama, saya berpegang teguh bahwa tidak baik atau tidak boleh membicarakan apa yang tidak kita ketahui, apalagi mempertanyakan Tuhan. Sekarang saya menutupnya dengan proposisi: Absurd (pada pandangan hidup semacam itu)

Kendati kita membatasi pemikiran pada ‘manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan’, tapi dorongan naluri batiniah - beberapa - manusia akan mempertanyakan mengapa kita diciptakan? Saya paham pada Ayat Al-Qur’an yang memaparkan kalau Allah adalah Yang Maha Tahu mengapa kita Ia ciptakan. Namun, pasti masih ada misteri yang belum terpecahkan tentang alasan Tuhan (Allah).

Barangkali jawabannya ada di diri kita sendiri, selain untuk menyembah-Nya, berbuat kebaikan, sebagai Khalifah, dan lain sebagainya. Demikianlah kita ada baiknya kembali mempertanyakan secara filsafat siapakah kita yang berwujud manusia ini?

Pangkalan Bun, 3 Juli 2012

Jul 3, 20121 note
#Manusia #Tuhan #Filsafat #Hidup #Dunia Sophie #Pandangan Hidup
Jul 3, 20124 notes
#RSBI #Pendidikan #Kemdikbud #UUD 1945
Kematian

Sebuah prosesi dari kehidupan.

Kematian adalah bagian akhir dari prosesi kehidupan, seperti yang kita tahu, lahir -> hidup -> mati.

Proses itu bukan pendek (simpel) tapi panjang (kompleks). Pernyataan kitab suci-kitab suci pun menjelaskan demikian, sekalipun ada manusia yang berproses dikehidupannya dengan rentang waktu pendek, dan ada juga yang mengalami proses yang panjang. Tapi hukum kehidupan yang akan mengakhiri kehidupan itu sendiri, yaitu kematian.

Dalam kematian pun ada proses. Ia lebih penting dari proses kehidupan. Jika proses kehidupan hanya lahir -> hidup -> mati, maka kematian (mungkin) lebih rumit, extraordinary, diluar apa yang diketahui manusia. Karena sesungguhnya kematian adalah suatu peristiwa yang tiba-tiba, di luar akal, tapi saya yakin, entah seribu atau dua ribu tahun yang akan datang, manusia sudah mampu menjelaskan kematian secara ilmiah apa itu kematian atau bagaimana pikiran Tuhan, seperti apa yang dikatakan oleh Stephen Hawking:

“Seandainya kita betul-betul menemukan sebuah teori sempurna, pada waktunya teori itu harus dapat dimengerti dalam prinsip yang luas oleh setiap orang. Maka kita semua, para filosof, ilmuwan, dan tepatnya orang biasa, akan dapat ikut serta dalam diskusi tentang mengapa kita dan alam semesta ada. Seandainya kita mendapatkan jawaban tentang hal itu, itulah keberhasilan terakhir rasio manusia. Karena kita kemudian betul-betul mengetahui Pikiran Tuhan…”

Di balik itu semua, kematian bagi saya adalah ihwal yang komprehensif. Ia mencakup alam semesta raya. Dan aturan universal mengatakan: Tidak Ada Yang Abadi. Itulah mengapa tulisan ini saya buat dengan unsur utama kematian.

Setelah kematian (lembaran lama), muncullah kehidupan baru (lembaran baru). Keyakinan saya bertambah kuat manakala mengingat pepatah: Mati Satu Tumbuh Seribu. Kematian hidup yang lama di hari kemarin, akan mengantarkan kita menemui kehidupan baru, yang lebih hidup – jikalau dari awal kita mempersiapkannya.

Demi kehidupan baru tersebut, saya persembahkan sebuah komitmen.. Menulis.

Pangkalan Bun, 2 Juli 2012

Jul 2, 2012
#Kematian #Manusia #Kehidupan #Stephen Hawking #Pepatah #Teori #Pangkalan Bun
Jul 2, 20125 notes
#Banjarmasin #Floating Market #Pasar Terapung #Lok Baintan
“Sejarah bukan seni bernostalgia, tapi sejarah adalah ibrah, pelajaran, yang bisa kita tarik ke masa sekarang, untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.” —Maa Haaza, Negeri 5 Menara (via fathinlangga)
Jul 2, 20125 notes
Next page →
2012 2013
  • January 3
  • February 4
  • March
  • April
  • May 2
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
2012 2013
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June 5
  • July 15
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December