Kalaupun angka aku pun angka
tak genap
tapi satu mana lengkap tanpa yang
pecah
maka aku pun rela jadi sepersekian
dari keutuhan-Mu
sebab tak lengkap engkau tanpa
aku
sebab tak sempurna engkau tanpa
manusia.
| — | Lagu Persetubuhan karya Wiji Thukul |
Kalaupun angka aku pun angka
tak genap
tapi satu mana lengkap tanpa yang
pecah
maka aku pun rela jadi sepersekian
dari keutuhan-Mu
sebab tak lengkap engkau tanpa
aku
sebab tak sempurna engkau tanpa
manusia.
| — | Lagu Persetubuhan karya Wiji Thukul |
Oleh: Agung Setiawan, Dewan Penasihat LPM Jurnal Kampus FE Unlam
Fenomena salah jurusan boleh jadi banyak dirasakan mahasiswa. Salah jurusan merupakan masalah penting yang seringkali dianggap sepele. Mahasiswa mengetahui bahwa fenomena ini terjadi disekitar mereka, bahkan diri mereka pun kemungkinan besar juga mengalami.
Saya mempunyai sedikit penjelasan mengenai fenomena salah jurusan ini. Yaitu mahasiswa yang merasakan dirinya tidak berminat sedikit terhadap apa yang dipelajarinya sehari-hari di kelas. Ia juga mengalami masalah pada proses perkuliahan dan nilai. Di sisi lain ada minat dan bakat terpendam dari dirinya namun terus-menerus terpendam karena apa yang ia sukai berbeda dari yang ia pelajari.
Faktor-faktor mahasiswa terjerumus pada jurusan yang salah ada banyak. Salah satunya karena orang tua. Faktor eksternal ini sangat dominan mempengaruhi calon mahasiswa mengambil jurusan. Padahal di hati nuraninya sudah memberikan jalan apa yang harus ia ambil. Lagi-lagi orang tua menekankan keinginannya kepada anaknya. Tidak ada salahnya memang, namun anggapannya bahwa orang tua lebih tahu atau dianggap berpengalaman maka sang anak akan ditentukan oleh orang tua.
Lingkungan pertemanan menjadi faktor kedua. Saat sebelum kelulusan biasanya pembicaraan antar teman pada jurusan apa yang akan diambil nantinya di bangku perkuliahan. Nah, di sinilah letak dari kegalauan dan kelabilan siswa. Mereka cenderung mengikuti apa kata orang, terlebih teman-temannya. Ketika teman dekatnya memutuskan untuk mengambil jurusan tertentu, ia mungkin saja otomatis mengikuti.
Rasanya sistem pendidikan pun turut ikut camput menjerumuskan mahasiswa dalam lubang yang salah. Ya, analisis saya dengan argumen: Ketika dulu di sekolah, siswa dipaksa untuk belajar sesuai dengan kurikulum saat itu. Tak pelak siswa mau tidak mau mengejar apa yang ditargetkan oleh mata pelajarannya. Dan pada akhirnya minat serta bakat diri masing-masing siswa terabaikan, kemudian berdampak pada orientasi pemilihan jurusan untuk kuliah.
Tuntutan bekerja, memasung pemikiran calon mahasiswa dengan sedikit pilihan. Maka muncullah pilihan jurusan yang dipersepsikan publik mudah untuk bekerja setelah lulus. Jarang ada mahasiswa berani mengambil jurusan linier dengan hobinya. Padahal di balik itu, hobi menentukan kesuksesan seseorang, seperti orang-orang sukses di luar sana.
Sebenarnya mudah mengidentifikasi mahasiswa yang salah jurusan. Beberapa di antaranya saat kuliah mereka seperti tidak berminat untuk fokus mendengarkan kuliah dosen, transkrip nilai yang rendah, dan sebagainya. Justifikasi kepada mahasiswa malas ikut kuliah seharusnya tidak diarahkan kepada mereka yang masuk golongan salah jurusan, hal ini karena faktor X seperti telah dijelaskan di atas. Seyogianya tidak ada mahasiswa yang gagal kuliah.[]
Berikut artis-artis yang terjerat atas kasus pemakaian narkoba (2000-2013):
Doyok, Gogon, Garry Iskak, Fariz RM, Roy Marten, Jennifer Dunn, Revaldo, Sammy “Kerispatih”, Yoyo “Padi”, Andika “Kangen Band”, Ibra Azhari, Fachriah Muntas atau Ade Ivay, Imam S Arifin, dan Sheila Marcia.
Terakhir Raffi Ahmad yang menjadi tersangka Badan Narkotika Nasional atas kepemilikan Metylone dan dua linting Ganja.
Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa, dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar.
Satu keluarga besar di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian, dan permusuhan.
Orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang sukses. Itu salah satu alasan orang tua menyekolahkan anaknya.
Sukses dalam artian sejahtera dalam ekonomi. Artinya, memiliki pekerjaan, gaji, dan jabatan bergengsi, baik di sektor privat mau pun birokrasi.
Tentu sejahtera ekonomi berhubungan langsung dengan pendidikan jalur ilmu ekonomi. Itulah alasan kenapa para orang tua serius mendorong anaknya melanjutkan studi di fakultas ekonomi atau sekolah tinggi ilmu ekonomi.
Menurut saya, fenomena itu tidak terlepas dari kondisi perekonomian Indonesia yang baru tumbuh subur. Mengapa? Karena hal itu tuntutan demi kesejahteraan keluarga. Selain itu, semakin banyak muncul kelas-kelas menengah ekonomi masyarakat. Sehingga gengsi sosial mendominasi. Dan pada akhirnya meningkatkan konsumsi masyarakat. Ujungnya, uang semakin banyak diperlukan.
(Bersambung)
Jumlah RSBI (2011):
SD: 239; SMP: 356; SMA: 359; SMK: 351. Total: 1.305.
Jenjang menuju SBI:
1. SSN (Sekolah Standar Nasional)
- Memiliki rata-rata UN 6,5
- Tidak “double shift” (kelas pagi-sore)
- Berakreditasi B dari BAN sekolah/madrasah.
2. RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional)
- Sudah SSN
- Berakreditasi A
- Pembelajaran IPA, Matematika, dan kejuruan dilakukan dalam dua bahasa (bilingual)
- Nilai rata-rata UN 7,0
- Guru berpendidikan S-2 (SD minimal 10%, SMP minimal 20%, SMA/SMK minimal 30%)
3. SBI
- SNP (Standar Nasional Pendidikan) dan diperkaya standar kualitas pendidikan negara maju
- Berakreditasi A
- Pembelajaran IPA, Matematika, dan kejuruan dilakukan dalam dua bahasa (bilingual)
- Nilai rata-rata UN 8,0
Alasan Mahkamah Konstitusi Membatalkan RSBI:
1. MK tidak menafikan pentingnya bahasa Inggris, tetapi istilah internasional sangat berpotensi mengikis kebudayaan dan bahasa Indonesia.
2. Lulusan pendidikan yang dihasilkan RSBI dan SBI adalah siswa berprestasi, tetapi tidak harus berlabel berstandar internasional.
3. RSBI membuka peluang pembedaan perlakuan antara sekolah RSBI/SBI dan sekolah non-SBI.
Sumber: Kompas
Membangun Mahasiswa Banua
Potret mahasiswa banua dewasa ini menunjukkan dunia pendidikan di bumi Antasari. Kaum berpendidikan Banjarmasin mencapai level Quo Vadis. Status Quo Vadis merujuk pada bahasa latin yang bermakna: mau dibawa kemana?. Dimulai dari frasa itu, saya mencermati kondisi riil dan faktual dari aktivitas kemahasiswaan di banua.
Pertama, lesunya kreativitas dalam konteks kegiatan yang beragam dan memiliki daya positif yang membangun. Kebanyakan kawan-kawan mahasiswa berkutat pada tradisi yang ada, dengan tanpa mentranformasikan bentuk dari kegiatan-kegiatannya. Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK), misalnya, selalu mengulang dari tahun-tahun sebelumnya.
Kedua, daya saing secara nasional yang diperkirakan kurang. Momen untuk membangkitkan pendidikan tinggi berkualitas terus-menerus dilewati. Kawan-kawan mahasiswa banua seakan terbuai dalam lingkungannya sendiri. Output dari keilmuan yang seharusnya diterapkan oleh intelektual-intelektual tersebut belum terdeteksi secara luas. Karya-karya ilmiah sebagai salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan sampai saat ini, tidak (belum) mengguncang dunia akademis banua – terutama oleh mahasiswanya sendiri.
Perangkat sivitas akademika pun turut terasa membiarkan ‘kebiasaan’ itu dipelihara. Hal ini diperparah dengan oknum pendidik yang korup. Bukan hanya term korupsi dalam istilah yang berhubungan dengan uang, namun lebih spesifik pada korupsi passion for teaching. Amanah menyampaikan ilmu dikalahkan oleh keegoistisaan. Artinya kesadaran membangun generasi bangsa yang berdaya saing tinggi dirasa masih lemah.
Ketiga, fenomena pemisah (gap) antara mahasiswa aktivis dan mahasiswa biasa (yang hanya berkuliah) cukup tinggi. Inilah problem utama dari mahasiswa banua. Kuantitas dan kualitas dari kedua unsur mahasiswa tersebut cukup signifikan. Pernyataan ini dilihat dari jumlah komunitas-komunitas kemahasiswaan terlalu sedikit, berbeda dibanding dengan perguruan tinggi di luar kalimantan. Semua itu berdampak pada tren seperti pada argumentasi yang pertama dan kedua di atas. Mahasiswa akan kekurangan kreativitas dan kepedulian sosialnya, karena masalah kelangkaan mahasiswa inovatif, kreatif, serta berkemampuan sosial. Maka, untuk apa menuntut ilmu tinggi jika ia tak mampu membangun lingkungan sosialnya sendiri?.
Faktor tiga argumen di atas utamanya dipicu oleh kebudayaan, lingkungan sosial, dan kurang maksimalnya pengadaan teknologi informasi. Kondisi faktual dan aktual ini jika tidak sesegera mungkin diantisipasi, akan berimplikasi pada generasi banua di masa depan. Ketertinggalan kaum terdidik tinggi akan semakin nyata dampaknya dikemudian hari. Refleksinya dapat kita lihat sehari-hari, semakin panasnya dan semakin sempitnya hidup di Banjarmasin. Saya berpikir andai saja mahasiswa teknik mampu menciptakan solusi atasi kemacetan dibeberapa titik di kota seribu sungai. Atau ditemukannya teknik memanipulasi pikiran oleh mahasiswa psikologi agar kebiasaan membuang sampah sembarang oleh sebagian masyarakat banjar dapat ditekan.
Bukan sekadar mimpi kalau mahasiswa banua mencapai prestasi demi membanggakan daerah kita. Suku banjar bukanlah suku bangsa pinggiran, cukup banyak asli banua yang berkiprah dan berandil besar langsung kepada Negara. Namun kenyataan masa kini yang membuat suku kita ini terkapar. Hampir jarang sekali kita mendengar suku banjar disebut-sebut dalam ranah nasional, paling tidak untuk beberapa tahun belakangan. Kita tidak cukup berbangga dengan hasil perekonomian yang tinggi jika mayoritas pribuminya bukan termasuk masyarakat yang unggul.
Rumusan solusi atas segenap permasalah di atas kiranya dapat ditentukan dengan cara, pertama, orientasi pendidikan tinggi lebih terhadap mahasiswa. Urgensi membangun mahasiswa banua yang unggul secepatnya melalui mekanisme pendidikan berkarakter secara intensif. Tidak cukup itu, dosen juga menyusupkan nilai-nilai pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang hukumnya wajib dikuasai oleh penerus bangsa dalam perkuliahannya. Caranya dengan memotivasi atau memberikan contoh bagaimana mengelola dan mengembangkan iptek dalam seluruh bidang.
Kedua, pembudayaan belajar dan kepekaan sosial lingkungan. Ini penting, mengingat aspek permasalahan banua diseputar bidang itu. Pepatah, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, masih relevan diterapkan sampai saat ini. Tujuannya agar wawasan pemuda semakin luas lagi, dan membuka jalan pada konektivitas kepada dunia. Yang paling penting, kawan-kawan mahasiswa bersukarela menumbuhkan jiwa sosial, terutama membantu perkembangan daerah kita sendiri. Sehingga kejayaan bangsa banjar masa lalu dapat dibangkitkan kembali di masa depan. Itulah pentingnya membangun mahasiswa banua. []
Beberapa orang mengatakan kalau menulis dapat menghilangkan stress/depresi. Kurang lebih hal itu benar. Bapak Dahlan Iskan pun dulu ketika mengalami operasi hati, ia tetap menulis, dan ajaib, ia saat ini sembuh berkat pertolongan bantuan hati oleh pemuda China.
Sudah lama rasanya Saya tidak menulis lagi. Semenjak masa sibuk di Organisasi Mahasiswa LPM Jurnal Kampus. Saat itu Saya berkutat dalam kepentingan-kepentingan banyak, antara diri sendiri, teman-teman, dan organisasi itu tentunya.
Tidak dapat dimungkiri, Saya merindukan menulis. Di mana menulis memberikan Saya penghargaan batin (walau penghargaan untuk diri sendiri), Saya mengangkat diri bahwa Saya berbakat untuk menulis.
Sudah tak terhitung, meski relatif banyak, tulisan-tulisan Saya dari beberapa tahun belakangan, Saya baca kembali. Dan saya terkejut, betapa tulisan-tulisan tersebut begitu luar biasa. Saya tak menyangka bisa menulis seperti itu. Ternyata benar apa kata Bapak Mario Teguh: “Liat masa lalu, betapa kau akan mendapati kau mampu berbuat seperti itu.”
Setelah Saya keluar dari Jurnal Kampus, ini kesempatan Saya kembali memproduksi tulisan-tulisan yang Insya Allah akan berguna nantinya. Bismillah….
Tanya Mahasiswa
Pandangan masyarakat secara luas menganggap atau menetapkan Mahasiswa sebagai kumpulan orang yang berilmu dan berpengetahuan.
Mengapa itu bisa terjadi?
Karena kenyataannya begitu.
Siapapun ia, selam ia adalah mahasiswa, pastilah ia pandai, cerdas, pintar, berilmu, dan mempunyai kemampuan.
Mengapa memiliki ilmu pengetahuan?
Karena mereka belajar. Ilmu-ilmu yang terhampar luas, mereka serap sedikit demi sedikit. Mereka gunakan untuk kemaslahatan baik diri sendiri maupun masyarakat luas. Kemudian mereka kembangkan lagi, sehingga ilmu yang ada bertambah luas.
Bukankah tanpa menjadi mahasiswa, manusia dapat hidup?
Pemikiran yang benar, tapi keliru. Mahasiswa itu adalah manusia terpilih. Berbeda dengan makhluk hidup lain, seperti hewan, tumbuhan, benda mati, bahkan manusia lainnya yang bukan mahasiswa. Sebagai bagian dari manusia, pastilah ia memiliki akal. Nah, apa guna akal? Berpikir? Tepat. Akal adalah sesuatu yang selalu aktif jika digunakan. Itulah manusia. Tanpa akal yang digunakan ia hanya seonggok daging hidup. Maka jangan heran disekitar kita banyak yang seperti itu.
Bukankah setiap manusia dari lahir sampai mati selalu berpikir?
Benar. Namun, berpikir seperti apa? Berpikir baik atau sekadarnya? Nah, itulah yang membedakan Mahasiswa dan bukan Mahasiswa. Tetapi, berita buruknya, ada mahasiswa yang tidak pernah berpikir - dengan baik.